K@tegori

Selasa, 26 Maret 2013

CURHAT Sang Dokter Untuk Indonesia



Profesi seorang Dokter selalu disorot. Selain berita positif, sering ada berita-berita mengenai ketidakbecusan Dokter dalam menangani pasien, pasien yang melapor karena menjadi korban “malpraktek”, Rumah Sakit yang dikatakan menolak pasien dan pada akhirnya akan ditarik kesimpulan pukul rata: ORANG MISKIN TAK BOLEH SAKIT. Jadi, bagaimanakah sebenarnya perjalanan seseorang hingga dapat menjadi penyembuh yang tidak boleh salah itu?

Adalah seorang kebanggaan menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) yang terpandang dan untuk masuk harus menyisihkan ribuan pendaftar. Apakah benar masuk selalu mahal sehingga ditebus denan menarik biaya tinggi ke pasien setelah lulus? Tidak sepenuhnya benar. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga angkatan 2010 yang lulus lewat jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Nasional (SNMPTN) cukup membayar uang masuk Rp. 1.032.500,- (331,14 Ringgit Malaysia) dan SPP Rp. 1.250.000,- (400,90 Ringgit Malaysia) setiap semester.

Selepas euforia diterima di Fakultas Kedokteran, mulailah seorang mahasiswa kedokteran mempelajari ilmu-ilmu dasar sebagai landasan mempelajari penyakit dan pengobatan. Begitu banyak yang harus dilalui, mulai menahan bau formalin saat pratikum pembedahan cadaver (Mayat), merelakan diri untuk saling berlatih mengambil dan memeriksa darah, urine (Kencing) serta feces (Kotoran Manusia) dan kewajiban mengerti buku Kedokteran yang tebalnya ribuan halaman. Para Dosen, Dokter dan Profesor yang rela mau meluangkan waktu untuk mengajar mahasiswa mulai tingkat paling bawah. 

Beberapa gugur, yang bertahan. Singkat kata, Tiga Setengah Tahun terlewati dan luluslah dari Fakultas Kedokteran. Apakh sudah selesai? Beum, perjuangan justru baru dimulai. Dengan gelar Sarjana Kedokteran ditangan, para calon Dokter mulai bertugas di Rumah Sakit sebagai Dokter Muda (DM) atau lazim disebut co-ass. Serang co-ass bekerja magang di Rumah Sakit untuk menangani pasien dibawah pengawasan Dokter-Dokter lain yang sudah senior sehingga tidak benar apabia dikatakan pasien menjadi kelinci percobaan.

Apabila melakukan kesalahan sedikit saja, dokter muda tidak luput dari sanksi. Seorang Dokter Muda diwajibkan berada di Rumah Sakit setiap hari, tidak peduli Minggu atau Hari Raya, juga menjalani jadwal jaga. Jaga disini berarti tinggal di Rumah Sakit dan membantu merawat pasien di Bangsal semalaman suntuk, sering tanpa tidur. Setelah itu dilanjutkan dengan mengikuti laporan mengenai kondisi pasien pagi-pagi benar dan bertugas lagi hingga sorenya. Boleh dikatakan hidup seorang Dokter Muda adalah di Rumah Sakit dengan jam kerja yang sangat panjang, apalagi seperti di RSUD dr. Soetomo yang menerima ribuan pasien setiap hari sebagai rujukan Indonesia Timur. Dokter Muda itu harus menjalani Dua Tahun dengan tetap membayar uang kuliah. Semua itu bagian dari pendidikan profesi yang harus dijalani sebelum layak menyandang gelar “dr” didepan nama. Selesai menjalani Dokter Muda, para calon Dokter tersebut dihadapkan kepada Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) yang meliputi ujian tulis dan Praktek. Apabila lulus, resmilah dia menjadi seorang DOKTER. Disini keprihatinan berlanjut, Dokter itu harus menjalani internship atau program penempatan ke Rumah Sakit tipe C dan Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) di Kota-Kota terpencil selama setahun. Bukan penempatannya yang menjadi masalah. Namun, selama menjalani internship, Dokter itu tidak boleh terlebih dahulu berpraktek sendiri. Mereka bekerja di Rumah Sakit dengan gaji yang dipukul rata, yaitu Rp. 1.250.000,- (400,90 Ringgit Malaysia) dan dibayarkan setiap Tiga Bulan (UMR buruh lebih tinggi, bukan)?

Masih dengan jam kerja yang panjang dan tidak menentu ditambah tanggung jawab kepada pasien. Para Dokter itu harus menanggung biaya hidup di “Kota Asing”. Selepas internship, seorang dokter dianggap cukup memumpuni untuk berparaktek sendiri dan ada beberapa pilihan. Salah satu diantaranya, menjalani PTT di Daerah-Daerah terpencil atau menjalani pendidikan Dokter Spesialis. Meskipun ada begitu banyak daerah terpencil diseluruh Indonesia yang masih kekurangan dokter, terpilih menjadi Dokter PTT tidaklah mudah dikarenakan terbatasnya kuota. Kalau memilih menjadi Dokter Spesialis, hampir seluruhnya harus dijalani tanpa gaji dengan lama pendidikan bervariasi, 3-6 Tahun. Tanggung jawab dan beban kerja seorang calon Spesialis juga jauh lebih berat lagi daripada seorang Dokter Muda atau Dokter Internship.
Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk mengeluh atau ingin disanjung. Tapi, mengingatkan bahwa seorang Dokter tidak dapat bekerja sendiri. Untuk menciptakan sistem kesahatan yang baik dibutuhkan juga sarana yang memadai. Janganlah dengan kapasitas Rumah Sakit yang terbatas semua pasien miskin  boleh berobat gratis dan Rumah Sakit tidak boleh menolak pasien. Lalu, apabila ada yang terpaksa sekali tidak terlayani dengan maksimal, itu semata-mata menjadi kesalahan Dokter dan Rumah Sakit. Dokter membutuhkan rasa aman dalam bekerja dan akan sulit tercapai apabila dalam melakukan tindakan selalu dibayang-bayangi ancaman tuntutan. Kadang memang ada efek yang tidak diharapkan.

Meskipun begitu di kala para buruh berunjuk rasa menuntut kenaikan UMR, apakah pernah kita dengar para Dokter protes karena kenaikan gaji yang tidak memadai, pemberitaan yang tak berimbang atau beban kerja yang terlalu berat? Hargailah perjuangan para Dokter yang rela bertugas  di Daerah terpencil samapai tertular penyakit dan menjadi korban konflik. Dengarkanlah suara para Dokter di tengah gencarnya program kesehatan pemerintah. Bagaimanapun, Dokter akan selalu melayani. Sebab, semuanya sudah terucap dalam Sumpah di bawah Kitab Suci: “SAYA AKAN SENANTIASA MENGUTAMAKAN KESEHATAN PENDERITA”.

Sumber: dr. Olivia Listiowati Prawoto (dr.olivia.lp@gmail.com) serta Koran Radar Sulteng (Jawa Pos Group) Edisi Senin, 25 Maret 2013

5 komentar:

  1. bookmark dulu dddddehh :)

    makasih sharenya..
    blogwalking ^___________^ .

    BalasHapus
  2. Kalau mo jadi dokter, sepertinya saat ini yang punya kans besar adalah para anak orang kaya. Makanya, sekarang sangat jarang ada seorang dokter yang benar2 menjalankan profesinya bukan karena uang/materi... (curhat.com)

    BalasHapus
  3. Inilah realita yang harus dihadapi kalau ingin menjadi dokter di Indonesia....

    Koneksi sdg lambat, ngga bisa nulis pesan di shoutbox.
    www.1sthappyfamily.com

    BalasHapus
  4. salam kenal, dokter adalah bak tangan dewa bagi sebagian rakyat Indonesia, warga terutama di pelosok sangat men"dewa"nya.Tetapi apa yang jadi harapan rakyat terkadang jauh panggang dari api,seorang dokter mendiagnosa pasien main asal-asalan.salah satu contoh pasien didiagnosa "migren" karena keluhan pusing-pusing ternyata setelah didignosa ke rumah sakit tingkat provinsi ternyata pasien tersebut menderita kanker otak stadium 4!saya berharap jadilah dokter yg benar-benar dokter.tetap semangat dan sukses.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya Turut prihatin, tapi segala sesuatau perlu melihat situasi dan kondisi suatu tempat. Mungkin fasilitas puskesmas atau rumah sakit tidak memadai, maka dari itu rumah sakit tipe C atau puskesmas memberikan surat rujukan ke RSUD.

      Hapus