K@tegori

Rabu, 10 April 2013

GALAU

Pulang dari tempat kerja banyak kejadian yang tak menyenangkan. Singgah di pasar Manonda Palu untuk membeli buah segar, lewat di jalan Kemiri ada bau yang sangat mengengat sekali dan tak enak untuk dihirup. Yaitu bau sampah di pinggir jalan serta bau air selokannya. Putar menuju jalan Sis Aldjufrie juga mendapatkan hal demikian.

Tumpukan sampah di Jalan Kemiri, PALU
 Kataku “Hmmm bagaimana Pemerintah Kota Palu mau dapat Piala Adipura yahh kalau hal yang sepele tak  bisa juga diatasi”.

Sesampainya dirumah Tante memberi kabar kalau dia digigit anjing, alasannya simpel karena sudah berkali-kali pergi kerumah keluarga di Biromaru itu jadi dibilang sudah jinak

Kataku “Biar tante sudah berkali-kali ke rumah itu kalau tante bukan majikannya tetap aja akan digigit”. Celakanyanya lagi tanteku cuma berobat ke bidan setempat. Mati konyol. . . besok ambil rujukan dari puskemas untuk berobat di RSUD Undata Palu

Lewat didekat rumah (Jl. Basuki Rahmat) ternyata masih banyak orang berjubel melihat sambil mengambil gambar kalau ada Tuyul atau Alien. GEMPAR KOTA PALU di BIKIN

Padahal sudah hampir seminggu kejadian itu orang masih penasaran dengan tempat itu.

Dan yang lebih parahnya saya melihat ada promo pameran expo dalam rangka HUT provinsi Sulawesi Tengah yang ke 49. Saya dapat brosur kalau pamerannya dibuka kemarin (9/04).


Pas sampai di Lapangan Vatulemo Palu ternyata belum ada pamerannya.

“Lah acara ini diadakan dimana, yahh pulang dengan tangan kosong”.

Jumat, 29 Maret 2013

Momen Penting di Hari Jumat



Hari Jumat, 29 Maret 2013 merupakan momen penting didalam hidup saya, karena genaplah Tiga Tahun saya bekerja di PT. Permata Lestari Utama. Sebuah perjalanan karir yang masih relatif pendek , tapi mengandung tingkat resiko pekerjaan yang sangat berat.

Pertama kali saya diterima bekerja di Perusahaan itu adalah bagian administrasi gudang, tugas utama pekerjaan ini yaitu menghitung semen yang masuk dan keluar dari gudang. Api apa di kata saya tak bertahan lama ditempat itu, karena saya tak tahan dengan abu semen apalagi saya punya penyakit Dyspnea (Sesak Napas). Seteleh itu saya pindah dibagian Sales dan Marketing, posisi ini saya tempati selama Satu Tahun. Selama Satu Tahun itu pula saya sudah mengenal setiap karakter pemilik Toko Bahan Bangunan di Kota Palu. Ada yang kalem, tegas, suka curhat, dan ada yang paling rese jika minta semennya ke kita.

Sesudah itu saya pindah ke administrsi penjualan hingga saat sekarang, betah kerja di posisi ini ytidak perlu keluar kantor. 

Momen yang paling berharga lainnya ialah tepat hari ini adalah JUMAT AGUNG atau wafatnya Tuhan Yesus Kristus.

Inti dari Perayaan Jumat Agung ini adalah kasih Allah dalam kelahiran, hidup, karya, kematian, dan berpuncak pada kebangkitan Yesus Kristus. Ini memikat, namun mengandung konsekuensi langsung bagi mereka yang beriman kepada Kristus! Bila karena Kristus kita menderita, itu suatu tanda persekutuan yang erat antara kita dan Kristus, yang telah menderita bagi kita. Kita dan Kristus menjadi satu dalam penderitaan! Muara dari penyatuan ini bukanlah kesedihan, melainkan kejayaan bagi Allah. Sebab, kita menderita bukan karena hidup secara konyol, melainkan karena kita hendak menyatakan iman di tengah dunia yang keras dan tidak bersahabat.

Apakah hari ini Anda menderita karena iman Anda? Bersyukurlah bila demikian, sebab ketika Anda menderita, Kristus yang terlebih dahulu menderita bagi Anda akan menguatkan dan meneguhkan Anda di tengah panasnya gurun dunia. Salib Kristus akan mengantar Anda menuju kebangkitan-Nya. Apakah lagi hal yang lebih indah dari hal ini?

Kami senantiasa membawa kematian Kristus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. (2 Korintus 4:10)

Selamat Merayakan Jumat Agung . .Tuhan Yesus memberkati kita semua disepanjang hidup kita. Amin

Selasa, 26 Maret 2013

CURHAT Sang Dokter Untuk Indonesia



Profesi seorang Dokter selalu disorot. Selain berita positif, sering ada berita-berita mengenai ketidakbecusan Dokter dalam menangani pasien, pasien yang melapor karena menjadi korban “malpraktek”, Rumah Sakit yang dikatakan menolak pasien dan pada akhirnya akan ditarik kesimpulan pukul rata: ORANG MISKIN TAK BOLEH SAKIT. Jadi, bagaimanakah sebenarnya perjalanan seseorang hingga dapat menjadi penyembuh yang tidak boleh salah itu?

Adalah seorang kebanggaan menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) yang terpandang dan untuk masuk harus menyisihkan ribuan pendaftar. Apakah benar masuk selalu mahal sehingga ditebus denan menarik biaya tinggi ke pasien setelah lulus? Tidak sepenuhnya benar. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga angkatan 2010 yang lulus lewat jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Nasional (SNMPTN) cukup membayar uang masuk Rp. 1.032.500,- (331,14 Ringgit Malaysia) dan SPP Rp. 1.250.000,- (400,90 Ringgit Malaysia) setiap semester.

Selepas euforia diterima di Fakultas Kedokteran, mulailah seorang mahasiswa kedokteran mempelajari ilmu-ilmu dasar sebagai landasan mempelajari penyakit dan pengobatan. Begitu banyak yang harus dilalui, mulai menahan bau formalin saat pratikum pembedahan cadaver (Mayat), merelakan diri untuk saling berlatih mengambil dan memeriksa darah, urine (Kencing) serta feces (Kotoran Manusia) dan kewajiban mengerti buku Kedokteran yang tebalnya ribuan halaman. Para Dosen, Dokter dan Profesor yang rela mau meluangkan waktu untuk mengajar mahasiswa mulai tingkat paling bawah. 

Beberapa gugur, yang bertahan. Singkat kata, Tiga Setengah Tahun terlewati dan luluslah dari Fakultas Kedokteran. Apakh sudah selesai? Beum, perjuangan justru baru dimulai. Dengan gelar Sarjana Kedokteran ditangan, para calon Dokter mulai bertugas di Rumah Sakit sebagai Dokter Muda (DM) atau lazim disebut co-ass. Serang co-ass bekerja magang di Rumah Sakit untuk menangani pasien dibawah pengawasan Dokter-Dokter lain yang sudah senior sehingga tidak benar apabia dikatakan pasien menjadi kelinci percobaan.

Apabila melakukan kesalahan sedikit saja, dokter muda tidak luput dari sanksi. Seorang Dokter Muda diwajibkan berada di Rumah Sakit setiap hari, tidak peduli Minggu atau Hari Raya, juga menjalani jadwal jaga. Jaga disini berarti tinggal di Rumah Sakit dan membantu merawat pasien di Bangsal semalaman suntuk, sering tanpa tidur. Setelah itu dilanjutkan dengan mengikuti laporan mengenai kondisi pasien pagi-pagi benar dan bertugas lagi hingga sorenya. Boleh dikatakan hidup seorang Dokter Muda adalah di Rumah Sakit dengan jam kerja yang sangat panjang, apalagi seperti di RSUD dr. Soetomo yang menerima ribuan pasien setiap hari sebagai rujukan Indonesia Timur. Dokter Muda itu harus menjalani Dua Tahun dengan tetap membayar uang kuliah. Semua itu bagian dari pendidikan profesi yang harus dijalani sebelum layak menyandang gelar “dr” didepan nama. Selesai menjalani Dokter Muda, para calon Dokter tersebut dihadapkan kepada Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) yang meliputi ujian tulis dan Praktek. Apabila lulus, resmilah dia menjadi seorang DOKTER. Disini keprihatinan berlanjut, Dokter itu harus menjalani internship atau program penempatan ke Rumah Sakit tipe C dan Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) di Kota-Kota terpencil selama setahun. Bukan penempatannya yang menjadi masalah. Namun, selama menjalani internship, Dokter itu tidak boleh terlebih dahulu berpraktek sendiri. Mereka bekerja di Rumah Sakit dengan gaji yang dipukul rata, yaitu Rp. 1.250.000,- (400,90 Ringgit Malaysia) dan dibayarkan setiap Tiga Bulan (UMR buruh lebih tinggi, bukan)?

Masih dengan jam kerja yang panjang dan tidak menentu ditambah tanggung jawab kepada pasien. Para Dokter itu harus menanggung biaya hidup di “Kota Asing”. Selepas internship, seorang dokter dianggap cukup memumpuni untuk berparaktek sendiri dan ada beberapa pilihan. Salah satu diantaranya, menjalani PTT di Daerah-Daerah terpencil atau menjalani pendidikan Dokter Spesialis. Meskipun ada begitu banyak daerah terpencil diseluruh Indonesia yang masih kekurangan dokter, terpilih menjadi Dokter PTT tidaklah mudah dikarenakan terbatasnya kuota. Kalau memilih menjadi Dokter Spesialis, hampir seluruhnya harus dijalani tanpa gaji dengan lama pendidikan bervariasi, 3-6 Tahun. Tanggung jawab dan beban kerja seorang calon Spesialis juga jauh lebih berat lagi daripada seorang Dokter Muda atau Dokter Internship.
Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk mengeluh atau ingin disanjung. Tapi, mengingatkan bahwa seorang Dokter tidak dapat bekerja sendiri. Untuk menciptakan sistem kesahatan yang baik dibutuhkan juga sarana yang memadai. Janganlah dengan kapasitas Rumah Sakit yang terbatas semua pasien miskin  boleh berobat gratis dan Rumah Sakit tidak boleh menolak pasien. Lalu, apabila ada yang terpaksa sekali tidak terlayani dengan maksimal, itu semata-mata menjadi kesalahan Dokter dan Rumah Sakit. Dokter membutuhkan rasa aman dalam bekerja dan akan sulit tercapai apabila dalam melakukan tindakan selalu dibayang-bayangi ancaman tuntutan. Kadang memang ada efek yang tidak diharapkan.

Meskipun begitu di kala para buruh berunjuk rasa menuntut kenaikan UMR, apakah pernah kita dengar para Dokter protes karena kenaikan gaji yang tidak memadai, pemberitaan yang tak berimbang atau beban kerja yang terlalu berat? Hargailah perjuangan para Dokter yang rela bertugas  di Daerah terpencil samapai tertular penyakit dan menjadi korban konflik. Dengarkanlah suara para Dokter di tengah gencarnya program kesehatan pemerintah. Bagaimanapun, Dokter akan selalu melayani. Sebab, semuanya sudah terucap dalam Sumpah di bawah Kitab Suci: “SAYA AKAN SENANTIASA MENGUTAMAKAN KESEHATAN PENDERITA”.

Sumber: dr. Olivia Listiowati Prawoto (dr.olivia.lp@gmail.com) serta Koran Radar Sulteng (Jawa Pos Group) Edisi Senin, 25 Maret 2013

Baca Selengkapnya...